Tanggal 20 september 2008 dua jam setelah terbang dari Taipei, pesawat Boeing tipe 747-400 tujuan Bali diempas jetstream (angin kencang) pada ruang hampa udara di ketinggian 35 ribu kaki (10,6 km) di atas daratan Sulawesi Utara dan Filipina. Kondisi yang di dunia penerbangan umum disebut turbulensi itu menimbulkan guncangan hebat di pesawat. Fenomena turbulensi memang menjadi momok para pilot. Kondisi yang dialami pesawat China Airlines bisa disebabkan turbulensi atau gerak puntir udara karena adanya proses sirkulasi udara di awan. Di dalam awan tersebut terdapat dua aliran, yakni yang naik berupa uap air dan yang turun berupa air. Secara sederhana, bisa disebutkan bahwa pesawat menabrak awan. ”Biasanya, kalau berada di dalam awan tersebut dan merasakan aliran udara itu, itu yang membuat pesawat bergetar”. Awan tersebut memang bisa membahayakan. Dalam ketinggian tertentu, awan tersebut bisa menyebabkan pesawat patah. Namun, dengan kemajuan teknologi, dampak turbulensi bisa dihindari, bahkan diminimalkan. ”Turbulensi kini bisa dideteksi dengan radar sehingga pesawat tidak terbang terlalu tinggi”. Dari seorang mantan pilot Garuda : Ketika terjadi turbulensi, pesawat bisa bergerak turun atau naik secara tiba-tiba. ”Makanya, kalau penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman, dia bisa terpental”. Turbulensi, bagaimanapun ekstremnya, tidak pernah ”menjatuhkan” pesawat terbang. Penumpang jangan khawatir, atau jangan mengambil keputusan yang ekstrem : loncat dari pesawat dengan parasutnya China Airline.

Organisasi kita bisa jadi pernah masuk wilayah turbulensi atau malah saat ini organisasi anda masih berada dalam keadaan turbulensi. Apa yang harus kita lakukan ? Mungkin organisasi anda ibarat pesawat full atau sarat membawa penumpang. Dan tidak main-main penumpangnya adalah orang-orang yang pada level intelektualnya sudah tinggi yang sesungguhnya bisa anda mintai tolong untuk mengeluarkan pesawat dari kondisi turbulensi. Tapi…? ternyata sulit. Malah dijumpai beberapa penumpang terjun “menyelamatkan” diri sendiri cuma (mohon maaf) menggunakan “parasut” atau alat penolong milik/copyright/branding/stempel milik organisai atau perusahaan anda.

Pilot perusahaan anda harus segera melakukan langkah-langkah cepat untuk meyelamatkan pesawat dengan keluar dari kondisi turbelensi : Instruksi awal sekali adalah : JANGAN TINGGALKAN PESAWAT !!! DUDUK kembali ke kursi masing-masing sesuai dengan nomer tempat duduknya, dan pasang SABUK PENGAMAN !!!

Langkah berikutnya, Kenali problem atau penyebab turbulensi di perusahaan anda. agar mereka tetap dengan ikhlas duduk di kursi masing-masing dan merasakan bahaya bersama, menghadapi musuh bersama dan merasakan bahwa semua nya akan bisa diselesaikan tatkala kita dalam satu kebersamaan. Jika perusahaan anda adalah termasuk perusahaan yang “birokratis” dan “feodal”, biasanya penyebab utama turbulensi adalah kebiasaan karyawan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sehingga waktunya sibuk untuk membicarakan orang lain, akhirnya merasa dirinya besar (tidak mau mendengarkan yang lain) Jika dalam turbulensi peswat karena putaran udara dari 2 arah, samahalnya di perusahaan anda terjadi “asimetris information” : informasi yang tidak jelas contentnya dan asal-usulnya juga tidak jelas. Sehingga kondisinya tidak kondusif dan orang yang cemerlang dalam berprestasi malah menyembunyikan prestasinya. Takut mendengar komentar-komentar kotor dari sekelilingnya. Alih-alih penghargaan dia peroleh, malah cemooh yang dia dapat. Pilot harus segera menyelesaikan keadaan darurat ini dengan cara bijaksana. Nah bijaksana ini memang perlu sikap tegas : NO ghibah !, No Gosip ! berikan doktrinasi baru dalam bekerja : Kolaborasi, Sharing, Saling Menghargai, Act Globaly dan tinggalkan segala sesuatu yang tidak bermutu. Berikan target, Goal atau tujuan bersama yang jelas dan gamblang dengan performence indidkator yang jelas pula.Kalau tidak, capek BOS…!!!! disuruh main badminton diberi raket dan diberitahu Game diangka 21 tapi senarnya gak ada. Kapan mau selesai permainannya. Apalagi penontonya sama sekali nggak sopan.