Education : The Art of Innovation untuk Menggali Fortune in the Bottom of Pyramid dengan Wikinomics dan Blue Ocean Stategy*

Class room adalah tempat dimana seseorang dengan segala macam cara dan seni yang dimilikinya untuk melakukan transfer pengetahuan kepada muridnya. Proses transfer knowledges dilakukan secara terus-menerus dalam rentang waktu (Time) yang tertentu dan terbatas serta dalam sebuah paket kurikulum (content).”

Time. Waktu untuk belajar, sejak dari penciptaannya Tuhan telah menyiapkan 24 jam sehari. Namun sekarang sudah tersedia waktu 31 jam sehari untuk belajar dan bekerja bahkan dapat tembus 48 jam sehari. Selamat datang di dunia Wikinomics yang pilar-pilar perubahannya mendasarkan pada 4 sikap dasar : Collaboration, Share, Peer, dan Act Globaly. Definisi class room diatas bergeser jauh, tatkala muncul tutorvista : Mathe in Bangalore, Geschichte in Singapur. Internet telah menggeser dan menjadi penggerak perubahan tersebut. Sehingga 1900 lebih siswa SMA di Amerika Serikat / Eropa, mendapati guru matematika di Bangalore dan guru sejarah di Singapura. Dengan selisih waktu 7 jam antara Bangalore dan Eropa, memungkinkan seorang siswa akan mampu bekerja 14 jam sehari.

Contents.Inovasi atau mati. Profesionalitas berkorelasi kuat dengan kreativitas. Inovasi dan Profesionalitas adalah kata kunci untuk memenangkan kompetisi yang begitu ketat. Karena dari situ akan muncul produk (: bahan ajar) yang mampu memenangkan persaingan bagi siswa dengan tidak harus melakukan kompetisi yang ”berdarah-darah”. Bahkan derivatif produknya tidak akan dapat terukur kedalamannya. Wikipedia adalah sebuah produk kreativitas tanpa batas. Content yang baik, proses transfer ilmu yang baik, manajemen aset yang baik, akhirnya akan menjadi sebuah harta karun. Dan selamanya hartu karun selalu berada dibawah piramida. Harta itu akan tergali tatkala kebijakan sekolah berpihak kepada mereka yang berada pada lapis bawah piramida.

*disampaikan pada Seminar Persiapan Sekolah Kategori Mandiri di SMAN 7 Solo dan SMAN1 Kranyar

1. abstrak education

2. artikel sdbi